Rukun dan Syarat Pernikahan

Rukun dan syarat pernikahan dalam syariat islam adalah 2 hal yang harus difahami oleh kedua calon mempelai. Adapun rukun pernikahan adalah hal-hal yang wajib ada dalam pernikahan agar sah menurut hukum Islam. Sedangkan syarat pernikahan adalah persyaratan atau ketentuan yang harus dipenuhi agar pernikahan tersebut dianggap sah menurut hukum islam. Rukun nikah ada 4, yaitu: kedua mempelai, wali, saksi, dan ijab kabul. Silahkan baca penjelasan lengkapnya di bawah ini!.

1. Rukun dan syarat pernikahan pertama adalah kedua mempelai

Rukun dan syarat pernikahan dalam syariat islam yang pertama adalah adanya calon pengantin pria dan wanita. Mempelai merupakan salah satu rukun nikah yang penting dalam Islam. Calon mempelai laki-laki dan perempuan harus memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat dianggap memenuhi rukun nikah.

Persyaratan bagi calon mempelai laki-laki adalah:

a. Muslim

Menurut ajaran Islam, “beragama Islam” bukan hanya sekadar menyangkal keyakinan atau agama lain dan memilih Islam sebagai agama yang dianut. Namun juga melibatkan keyakinan dan amalan tertentu yang diperlukan bagi seorang muslim. Beberapa hal yang menjadi persyaratan dalam “beragama Islam” antara lain:

Mengakui keesaan Allah. Seorang muslim harus percaya dan mengakui bahwa hanya ada satu Tuhan yang disembah dan diibadahi, yaitu Allah SWT.

Percaya kepada para rasul dan kitab-kitab suci. Seorang muslim harus percaya kepada para rasul yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan ajaran-Nya kepada manusia. Serta kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai pedoman hidup manusia.

Melaksanakan ibadah dan syariat Islam: Seorang muslim harus melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Selain itu, seorang muslim juga harus mengikuti syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam berpakaian, makanan dan minuman yang halal, dan sebagainya.

Berakhlak mulia. Seorang muslim juga harus berusaha untuk memiliki akhlak yang mulia, seperti jujur, amanah, sabar, dan bertanggung jawab. Serta berusaha untuk menghindari perbuatan yang dilarang oleh agama Islam, seperti maksiat dan kecurangan.

Dalam konteks persyaratan menikah bagi calon mempelai laki-laki, “beragama Islam” menunjukkan bahwa calon mempelai laki-laki harus menjadi seorang muslim yang taat. Dan menjalankan ajaran Islam dengan baik dalam kehidupannya sehari-hari.

b. Baligh

Dalam Islam, “baligh” adalah istilah yang merujuk pada masa pubertas, yaitu masa di mana seseorang sudah mencapai usia matang secara fisik dan psikologis. Beberapa hal yang menandakan bahwa seseorang sudah baligh antara lain adalah:

Sudah mencapai usia tertentu. Menurut mayoritas ulama, usia baligh bagi laki-laki adalah ketika mencapai usia 15 tahun. Namun dalam beberapa kasus usia baligh bisa terjadi lebih awal atau lebih lambat tergantung pada perkembangan fisik dan psikologis seseorang.

Mengalami mimpi basah. Mimpi basah, atau ejakulasi spontan pada saat tidur, adalah tanda bahwa seseorang sudah memasuki masa pubertas dan sudah bisa memproduksi sperma.

Tumbuh rambut pada bagian tertentu. Tumbuhnya rambut pada bagian-bagian tertentu, seperti di bawah ketiak atau di sekitar kemaluan, juga menunjukkan tanda-tanda bahwa seseorang sudah mencapai masa pubertas.

Perubahan suara: Suara seseorang akan mulai berubah menjadi lebih berat ketika memasuki masa pubertas.

Dalam konteks persyaratan menikah bagi calon mempelai laki-laki, persyaratan untuk baligh menunjukkan bahwa calon mempelai laki-laki harus sudah mencapai usia pubertas. Sehingga sudah memiliki kemampuan untuk memahami ajaran agama dan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim. Selain itu, sebagai seorang yang sudah baligh, calon mempelai laki-laki juga diharapkan memiliki kematangan fisik dan psikologis yang cukup. Supaya dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagai suami dan kepala keluarga di masa yang akan datang.

c. Berakal

Dalam ajaran Islam, “berakal” merujuk pada kemampuan intelektual dan akal sehat seseorang untuk memahami dan mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim diharapkan memiliki akal yang sehat dan mampu berpikir rasional, serta mempertimbangkan berbagai aspek sebelum membuat keputusan. Beberapa hal yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki akal yang sehat antara lain:

Kemampuan memahami ajaran agama. Seorang muslim yang berakal sehat seharusnya mampu memahami ajaran agama secara benar dan mendalam. Sehingga dapat mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan untuk berpikir kritis. Seorang muslim yang berakal sehat harus mampu mempertimbangkan berbagai faktor dan sudut pandang sebelum membuat keputusan. Serta mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.

Kemampuan untuk mengendalikan emosi. Seorang muslim yang berakal sehat harus mampu mengendalikan emosinya. Sehingga tidak mudah terbawa emosi dan dapat bertindak dengan bijak dan rasional dalam setiap situasi.

Kemampuan untuk memahami tanggung jawab. Seorang muslim yang berakal sehat harus mampu memahami tanggung jawabnya sebagai seorang manusia dan muslim. Serta mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain.

Dalam konteks persyaratan menikah bagi calon mempelai laki-laki, persyaratan untuk berakal menunjukkan bahwa calon mempelai laki-laki harus memiliki kemampuan berpikir yang rasional. Dan bijak dalam mengambil keputusan sehari-hari, serta memahami tanggung jawabnya sebagai suami dan kepala keluarga. Seorang suami yang berakal sehat diharapkan mampu memimpin keluarga dengan bijak dan bertanggung jawab. Serta dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang benar dan sesuai dengan ajaran agama.

d. Mampu memenuhi nafkah

“Mampu memenuhi nafkah” adalah salah satu syarat penting bagi calon mempelai laki-laki dalam Islam. Syarat ini mengacu pada kemampuan seorang calon suami untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kemampuan calon suami untuk memenuhi nafkah antara lain:

d.1. Pendapatan yang cukup

Seorang calon suami harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Pendapatan tersebut dapat berasal dari pekerjaan, usaha, atau sumber penghasilan lain yang halal dan sesuai dengan ajaran agama.

d.2. Kemampuan mengelola keuangan

Selain memiliki pendapatan yang cukup, seorang calon suami juga harus memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan keluarga dengan baik. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk membuat anggaran, mengatur pengeluaran, dan mengambil keputusan finansial yang tepat.

d.3. Sikap bertanggung jawab

Seorang calon suami harus memiliki sikap bertanggung jawab terhadap keluarga dan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka secara teratur dan konsisten. Hal ini mencakup kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, serta kebutuhan pendidikan dan kesehatan keluarga.

d.4. Kesiapan menghadapi tantangan

Seorang calon suami harus siap menghadapi tantangan finansial yang mungkin terjadi di masa depan, seperti kehilangan pekerjaan atau kenaikan harga barang.

Dalam konteks persyaratan menikah bagi calon mempelai laki-laki, persyaratan untuk mampu memenuhi nafkah. Menunjukkan bahwa calon suami harus memiliki kemampuan dan sikap yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya. Seorang suami yang mampu memenuhi nafkah secara teratur dan konsisten dapat memberikan keamanan finansial dan kesejahteraan bagi keluarga. Serta dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab.

Dan jika anda membutuhkan jasa undangan pernikahan maka anda dapat menggunakan jasa pembuatan undangan digital web pernikahan online dari layanan jasa undangan digital. Karena dengan menggunakan jasa web undangan pernikahan online maka anda dapat membuat undangan pernikahan digital website dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga anda bisa memperolah diskon harga undangan digital untuk pembuatan undangan pernikahan digital. Buat undangan web pernikahan online anda dengan menggunakan jasa undangan digital website pernikahan online.

Persyaratan bagi calon mempelai perempuan adalah:

a. Muslimah

Menurut ajaran Islam, syarat utama bagi calon istri adalah dia haruslah seorang Muslimah yang memenuhi syarat-syarat untuk menjadi seorang Muslimah. Dalam Islam, setiap individu harus memutuskan sendiri apakah ingin memeluk agama Islam atau tidak. Oleh karena itu, calon istri haruslah memenuhi kriteria-kriteria yang diwajibkan dalam Islam agar dapat diakui sebagai seorang Muslimah.

Selain itu, ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi oleh calon istri dalam Islam. Selain memenuhi kriteria ke-Islaman, calon istri juga haruslah memenuhi kriteria sosial dan moral yang baik. Misalnya, calon istri haruslah seorang yang jujur, taat pada orang tua, sopan, berakhlak mulia, dan dapat dipercaya. Calon istri juga haruslah masih perawan atau dalam keadaan janda yang belum menikah lagi, dan tidak dalam keadaan hamil.

Di samping itu, dalam Islam juga diatur tentang hukum waris bagi keturunan. Sehingga pernikahan harus dilakukan dengan memperhatikan adanya persamaan hak dan kewajiban antara calon suami dan calon istri. Peran dan hak istri dalam Islam sangat dihargai, dan istri memiliki hak yang sama seperti suami dalam keluarga dan dalam kehidupan beragama.

Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah dan dianggap sebagai sarana untuk mencapai ridha Allah SWT. Oleh karena itu, dalam memilih pasangan hidup, baik calon suami maupun calon istri harus memperhatikan nilai-nilai keagamaan, moral, dan sosial yang baik agar pernikahan dapat berjalan dengan baik dan berkah.

b. Baligh

Dalam Islam, baligh bagi wanita ditandai dengan datangnya haid atau menstruasi. Setelah datangnya haid, seorang wanita dianggap telah mencapai usia baligh atau kematangan seksual dan harus memenuhi kewajiban-kewajiban agama. Termasuk salah satunya adalah menikah.

Namun, selain faktor biologis, ada juga faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan sebelum seorang wanita memutuskan untuk menikah. Seorang wanita juga harus memperhatikan kesiapan mental dan fisik, serta kesiapan finansial sebelum menikah. Ia juga harus memenuhi syarat-syarat lainnya yang telah diatur dalam ajaran Islam. Seperti memiliki wali yang sah untuk menikah, serta mendapatkan persetujuan dari kedua orang tua.

Selain itu, dalam Islam, pernikahan bukanlah sekadar ikatan sosial atau budaya semata. Tetapi juga merupakan ibadah yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan niat yang tulus. Oleh karena itu, seorang wanita harus memastikan bahwa ia siap secara mental dan emosional. Serta memahami kewajiban-kewajiban sebagai seorang istri dalam pernikahan menurut ajaran Islam.

Selain memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan, seorang wanita juga harus memastikan bahwa ia menikah dengan calon suami yang baik dan memenuhi kriteria dalam ajaran Islam. Seperti memiliki akhlak yang baik, bertanggung jawab, dan mampu menjalankan kewajiban agama dengan baik. Dengan memperhatikan semua faktor ini, seorang wanita dapat memastikan bahwa ia siap untuk menikah dan dapat menjalankan pernikahan dengan baik sesuai dengan ajaran Islam.

c. Berakal

Dalam ajaran Islam, kriteria “berakal” bagi wanita merujuk pada kemampuan intelektual dan kognitif seseorang. Seorang wanita yang akan menikah harus memiliki kemampuan untuk memahami akad nikah yang akan dilakukan dan menyadari arti dari pernikahan tersebut.

Namun, “berakal” dalam konteks pernikahan juga mencakup kemampuan seorang wanita untuk memahami dan menentukan keputusan-keputusan penting dalam pernikahan. Seperti pemilihan pasangan yang baik, kesiapan mental dan finansial untuk menikah, serta pemahaman tentang kewajiban dan hak-hak sebagai seorang istri dalam pernikahan menurut ajaran Islam.

Seorang wanita yang berakal diharapkan mampu menjalankan pernikahan dengan baik dan bijaksana. Ia dapat mengambil keputusan yang tepat dan rasional dalam menjalankan pernikahan, serta dapat berkomunikasi dengan baik dengan suami dan anggota keluarga lainnya.

Selain itu, seorang wanita yang berakal juga dapat memahami dan menjalankan kewajiban agama dengan baik, seperti melaksanakan shalat, berpuasa, membayar zakat, dan menjalankan ibadah-ibadah lainnya. Ia juga dapat memahami dan menghargai ajaran Islam tentang kesetaraan dan saling menghormati antara suami dan istri dalam pernikahan.

Oleh karena itu, bagi seorang wanita yang akan menikah, keberadaan akal yang sehat sangat penting untuk menjalankan pernikahan yang sehat dan harmonis. Dengan memiliki akal yang sehat, seorang wanita dapat memahami pernikahan menurut ajaran Islam, menjalankan kewajiban agama. Serta dapat mengambil keputusan yang baik dan bijaksana dalam menjalankan kehidupan pernikahannya.

d. Dalam keadaan suci

Dalam konteks pernikahan dalam Islam, “dalam keadaan suci” dapat diartikan sebagai kondisi fisik dan mental yang bersih dan sehat. Hal ini mengacu pada kondisi calon istri yang harus masih perawan atau dalam keadaan janda yang belum menikah lagi, serta tidak sedang hamil.

Dalam Islam, pernikahan adalah sebuah ikatan suci antara seorang suami dan istri yang dibangun atas dasar rasa cinta, kasih sayang, dan kebersamaan. Oleh karena itu, kondisi suci pada saat pernikahan dianggap sangat penting untuk membangun fondasi yang kuat dalam pernikahan.

Adapun kebersihan dan kesucian dalam pernikahan juga dapat diartikan sebagai kebersihan dan kesucian dalam segala aspek kehidupan, baik itu kebersihan fisik maupun kebersihan hati. Dalam Islam, bersih dan suci tidak hanya mengacu pada aspek fisik semata, tetapi juga pada kebersihan hati dan jiwa. Oleh karena itu, calon istri harus menjaga kebersihan dan kesucian dalam segala aspek kehidupannya, baik itu fisik, mental, maupun spiritual.

Dalam menjaga kebersihan dan kesucian, Islam mengajarkan agar kita selalu berusaha untuk hidup dalam keadaan yang bersih dan sehat, serta menjaga diri dari tindakan-tindakan yang tidak bermanfaat dan tidak sehat. Dalam pernikahan, kebersihan dan kesucian sangat penting untuk membangun fondasi yang kokoh dalam kehidupan berumah tangga.

2. Rukun dan syarat pernikahan ke-2 adalah wali

Rukun dan syarat pernikahan dalam syariat islam yang ke-2 adalah adanya wali. Wali adalah seorang pihak yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan izin dan persetujuan terhadap pernikahan calon mempelai perempuan. Dalam Islam, wali nikah adalah orang yang bertanggung jawab atas urusan pernikahan calon mempelai perempuan, dan memiliki hak untuk menyetujui atau menolak permintaan pernikahan.

Wali nikah pada umumnya adalah keluarga dekat perempuan, seperti ayah, kakek, saudara laki-laki atau paman dari calon mempelai perempuan. Namun, jika tidak ada keluarga dekat yang bisa dijadikan wali, maka wali nikah bisa juga diambil dari orang yang memiliki hubungan keluarga tertentu dengan calon mempelai perempuan.

Wali nikah juga memiliki tugas untuk memastikan kesepakatan ijab kabul yang diucapkan oleh calon mempelai laki-laki dan perempuan bersifat sukarela dan tidak terjadi paksaan. Wali nikah juga harus memastikan bahwa mahar dan syarat-syarat pernikahan lainnya telah dibicarakan dan disepakati oleh kedua belah pihak.

Dalam beberapa kasus, jika wali nikah tidak hadir pada saat pernikahan, maka pihak yang bertanggung jawab untuk memberikan izin dan persetujuan adalah pengadilan agama setempat.

Dalam praktiknya, wali nikah juga berperan sebagai penjaga kehormatan calon mempelai perempuan, dan akan memastikan bahwa pernikahan tersebut akan memberikan kebahagiaan dan keuntungan bagi keluarga kedua mempelai. Wali nikah juga bertanggung jawab atas proses pernikahan dan memastikan bahwa proses tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam.

3. Rukun dan syarat pernikahan ke-3 adalah saksi

Rukun dan syarat pernikahan dalam syariat islam yang ke-3 adalah adanya saksi. Syahid atau saksi adalah orang yang memiliki peran penting dalam sahnya sebuah pernikahan dalam Islam. Saksi adalah pihak yang menyaksikan ijab kabul dan memberikan persetujuannya terhadap pernikahan calon mempelai laki-laki dan perempuan.

Dalam pernikahan Islam, minimal dua orang saksi harus hadir untuk memastikan bahwa ijab kabul yang diucapkan oleh calon mempelai laki-laki dan perempuan bersifat sukarela dan tidak terjadi paksaan. Saksi juga harus memastikan bahwa semua syarat-syarat pernikahan telah dipenuhi dan mahar telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Selain itu, saksi juga bertugas untuk mengumumkan pernikahan secara resmi kepada masyarakat atau keluarga, serta menyebarluaskan informasi mengenai ijab kabul dan mahar yang telah disepakati.

Dalam Islam, saksi pernikahan juga memiliki tanggung jawab moral untuk membantu menjaga keutuhan pernikahan dan membantu calon mempelai laki-laki dan perempuan dalam memenuhi tugas-tugas sebagai pasangan suami istri. Saksi juga harus bersikap adil dan netral dalam menyelesaikan masalah yang muncul di dalam pernikahan dan berperan sebagai mediator dalam mengatasi perselisihan antara kedua belah pihak.

Saksi pernikahan juga dapat memberikan nasihat dan bimbingan kepada calon mempelai laki-laki dan perempuan mengenai tanggung jawab mereka sebagai pasangan suami istri serta memberikan dukungan moral dan spiritual untuk menjaga keharmonisan dan keberhasilan pernikahan.

4. Rukun dan syarat pernikahan ke-4 adalah ijab kabul

Rukun dan syarat pernikahan dalam syariat islam yang ke-4 adalah adanya ijab kabul. Ijab Kabul adalah ungkapan ucapan yang diucapkan oleh calon mempelai laki-laki dan perempuan sebagai tanda persetujuan mereka terhadap pernikahan yang akan dilangsungkan. Adapun ijab kabul terdiri dari dua bagian, yaitu ijab yang diucapkan oleh wali dari mempelai wanita sebagai penyerahan kepada mempelai pria. Sedangkan qabul yang diucapkan oleh mempelai pria sebagai tanda penerimaan.

Ijab kabul adalah rukun nikah yang sangat penting dalam Islam karena ijab kabul menunjukkan kesepakatan kedua belah pihak untuk menjalani kehidupan pernikahan yang sah menurut ajaran Islam. Ijab kabul juga merupakan syarat utama dalam pernikahan karena tanpa ijab kabul, pernikahan tersebut dianggap tidak sah menurut hukum Islam.

Dalam Islam, ijab kabul harus diucapkan dengan sadar dan tanpa adanya paksaan. Ijab kabul juga harus diucapkan secara jelas dan terdengar oleh saksi pernikahan agar pernikahan tersebut sah menurut hukum Islam.

Selain itu, ijab kabul juga harus memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan dalam hukum Islam, seperti adanya mahar atau maskawin yang disepakati oleh kedua belah pihak. Mahar adalah sesuatu yang diwajibkan oleh hukum Islam sebagai bentuk pengakuan akan hak-hak istri dalam pernikahan. Mahar dapat berupa harta, uang, atau jasa, dan harus disepakati oleh calon mempelai laki-laki dan perempuan sebelum ijab kabul diucapkan.

Dalam praktiknya, ijab kabul biasanya diucapkan dalam bahasa Arab, namun dapat juga diucapkan dalam bahasa lain asalkan kedua belah pihak memahami artinya. Setelah ijab kabul diucapkan, pernikahan tersebut dianggap sah menurut hukum Islam dan kedua belah pihak dianggap sebagai suami istri dalam pandangan hukum Islam.

error: Content is protected !!